Headline
Senin, 04 Agustus 2008
Alkisah seorang raja yg kaya raya & sangat baik. Ia mempunyai banyak sekali emas & kuningan. Karena terlalu banyak sehingga antara emas & kuningan tercampur menjadi satu. Namun karena ada peraturan dari Sang Raja, yaitu bila mereka sudah MEMILIH & MENGAMBIL SATU dari emas itu, mereka tidak boleh mengembalikannya lagi. Mendengar itu bersukacitalah rakyatnya, sambil mengelu-elukan rajanya. Mereka datang dari penjuru tempat dan satu persatu dari mereka dengan berhati-hati mengamat-amati benda-benda itu. Waktu yg diberikan kepada mereka semua ialah SATU SETENGAH HARI, dengan perhitungan SETENGAH HARI UTK MEMILIH, SETENGAH HARI UTK MERENUNGKAN & SETENGAH HARI LAGI UTK MEMUTUSKAN. Para prajurit selalu siaga menjaga keamanan pemilihan emas tsb. Karena tidak jarang terjadi perebutan emas yg sama diantara mereka. Selama proses pemilihan berlangsung, seorang prajurit mencoba bertanya kpd salah seorang rakyatnya, "Apa yg kau amat-amati, sehingga satu setengah hari kau habiskan waktumu di sini?" Jawab orang itu: "Tentu saja aku harus berhati-hati, aku harus mendapatkan emas 24 karat itu." Lalu tanya prajurit itu lagi: "Seandainya emas 24 karat itu tidak pernah ada, atau hanya ada satu diantara setumpuk emas ini, apakah engkau masih saja mencarinya? Sedangkan waktumu sangat terbatas?" Jawab orang itu lagi: Tentu saja tidak, aku akan mengambil emas terakhir yg ada ditanganku begitu waktuku habis." Kemudian prajurit itu kembali mengawasi satu persatu dari mereka, maka tampak olehnya seseorang yg sejak satu hari ia selalu menggenggam kepingan emasnya. Lalu dihampirinya orang itu, "Mengapa engkau diam di sini? Tidakkah engkau memilih emas-emas itu? Atau tekadmu sudah bulat untuk mengambil emas itu?' Orang itu masih terdiam, prajurit itu semakin penasaran. Lalu ia lebih mendekat lagi, "Tidakkah engkau mendengar pertanyaanku?" Sambil menatap prajurit, orang itu menjawab: "Tuan,saya ini orang miskin. Saya tidak pernah tahu mana yg emas & mana yg kuningan. Tetapi HATI SAYA MEMILIH EMAS INI, saya pun tidak tahu berapa kadar emas ini. Atau jika ternyata emas ini hanya kuningan pun saya juga tidak tahu." "Lalu mengapa engkau tidak mencoba bertanya kepada mereka atau kepadaku kalau engkau tidak tahu." Tanya prajurit itu lagi. "Tuan, emas & kuningan ini milik raja. Jadi menurut saya hanya raja yg tahu mana yg emas & mana yg kuningan, mana yg 1 karat & mana yg 24 karat. Tetapi satu hal yg saya percaya, janji raja untuk mengubah kuningan menjadi emas, itu yg lebih penting." Jawabnya lugu. "Bagi saya berapa pun kadar emas ini cukup buat saya. Karena kalau saya bekerja, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membeli emas Tuan." Prajurit tampak tercengang mendengar jawaban dari orang ini, lalu ia melanjutkan perkataannya, "Lagipula Tuan, peraturannya saya tidak boleh menukar emas yg sudah saya ambil." "Saya SUDAH MENGGUNAKAN WAKTU ITU, kini waktu setengah hari terakhir saya, inilah saatnya saya mengambil keputusan. Jika saya GANTIKAN EMAS INI DENGAN YANG LAIN, BELUM TENTU SAYA MENDAPAT YG LEBIH BAIK DARI PUNYA SAYA INI. (setengah hari untuk memilih) Artinya setiap manusia milik Tuhan, jadi berdoalah untuk berkomunikasi denganNYA tentang pasangan anda.
Suatu hari raja yg baik hati ini memberikan hadiah emas kepada seluruh rakyatnya. Dia membuka gudangnya lalu mempersilahkan rakyatnya mengambil kepingan emas terserah mereka. Karena antara emas & kuningan tercampur menjadi satu sehingga sulit sekali dibedakan mana yg emas & mana yg kuningan, lalu mana yg emasnya 24 karat & mana yg emasnya hanya 1 karat.
Tetapi raja menjanjikan bagi mereka yg mendapat emas hanya 1 karat atau mereka yg mendapatkan kuningan, mereka dapat bekerja di kebun raja & merawat pemberian raja itu dengan baik, maka raja AKAN MENAMBAH & MEMBERIKAN KADAR KARAT itu sedikit demi sedikit.
Lalu prajurit itu berkeliling & ia menjumpai seorang yg tampan, melihat perangainya ia adalah seorang kaya. Bertanyalah prajurit itu kepadanya,
"Hai orang kaya apa yg kau cari di sini.Bukankah engkau sudah lebih dari cukup?"
Jawab orang kaya itu, "Bagiku hidup adalah uang, kalau aku bisa mengambil emas ini tentu saja itu berarti menambah keuntunganku."
Mendengar perkataan prajurit itu,orang ini hanya diam saja. Maka prajurit bertanya lagi,"Atau engkau yakin bahwa itulah emas 24 karat, sehingga engkau tidak lagi berusaha mencari yg lain?"
Prajurit ini semakin penasaran, "Mengapa bisa begitu?"
"Tidakkah engkau mengambil emas-emas yg lain & menukarnya sekarang selagi masih ada waktu?" Tanya prajurit lagi
Saya memutuskan untuk mengabdi pada raja & merawat milik saya ini, untuk menjadikannya emas yg murni."
Tak lama lagi lonceng istana berbunyi, tanda berakhir sudah kegiatan mereka. Lalu raja keluar & berdiri ditempat yg tinggi sambil berkata,"Wahai rakyatku yg kukasihi. Semua emas yg kau genggam itu adalah hadiah yg telah kuberikan. Sesuai dengan perjanjian, tidak seorang pun diperbolehkan menukar atau pun menyia-nyiakan hadiah itu. Jika didapati hal di atas maka orang itu akan MENDAPAT HUKUMAN karena ia tidak menghargai raja."
Kata-kata raja itu disambut hangat oleh rakyatnya. Lalu sekali lagi di hadapan rakyatnya raja ingin memberitahu tentang satu hal, "Dan ketahuilah, bahwa sebenarnya tidak ada emas 24 karat itu. Hal ini dimaksudkan bahwa kalian semua harus mengabdi kepada kerajaan. Dan hanya akulah yg dapat menambah jumlah karat itu, karena akulah yg memilikinya. Selama satu setengah hari, setengah hari yg kedua yaitu saat kuberikan waktu kepada kalian semua untuk merenungkan pilihan, kalian kutunggu untuk datang kepadaku menanyakan perihal emas itu. Tetapi sayang sekali, hanya 1 orang yg datang kepadaku untuk menanyakannya."
Demikianlah raja yg baik hati & bijaksana itu mengajar rakyatnya. Dan selama bertahun-tahun ia dengan sabar menambah karat satu persatu dari emas rakyatnya.
(Dikutip dari: "When We Have to Choice" / Kumpulan Sharing & Cerpen)
Berharap melalui alkisah di atas kita dapat merefleksi diri dalam mencari pasangan hidup:
BAGI YANG SEDANG MENCARI PASANGAN
MEMILIH memang boleh, tapi MANUSIA TIDAK ADA YG SEMPURNA, jangan lupa emas-emas itu milik sang raja jadi hanya dia yang tahu menahu masalah itu.
BAGI YANG TELAH MEMPEROLEH PASANGAN
(setengah hari untuk merenungkan)
Mungkin pertama kali Anda mengenal, si dia nampak emas 24 karat. Ternyata setelah bertahun-tahun kenal, si dia hanya berkadar 10 karat. Diluar, memang KITA DIHADAPKAN DENGAN BANYAK PILIHAN, sama dengan rakyat yang memilih emas tadi. Akan tetapi pada saat KITA SUDAH MENDAPATKANNYA BELUM TENTU WAKTU KITA MELEPASKANNYA KITA MENDAPAT YG LEBIH BAIK. Jadi jika dalam tahap ini Anda merasa telah mendapatkan dia, hal yang terbaik dilakukan ialah menilai secara objective siapa dia (karena itu KETERBUKAAN & KOMUNIKASI sangat penting dalam menjalin hubungan) dan MENYELARASKAN HATI.
Anda bersamanya. Begitu Anda tahu tentang HAL TERJELEK dalam dirinya sebelum Anda menikah itu lebih baik. Dengan demikian Anda tidak merasa shock setelah menikah. Tinggal BAGAIMANA ANDA MENERIMANYA. Anda mampu menerimanya atau tidak, Anda mengusahakan perubahannya atau tidak. "CINTA SELALU BERJUANG" Jangan anggap tidak pernah ada masalah dalam jalan cinta Anda. Justru jika dalam tahap ini Anda tidak pernah mengalami masalah dengan pasangan Anda (TIDAK PERNAH BERTENGKAR MUNGKIN) Anda malah harus berhati-hati, karena ini adalah hubungan yg tidak sehat, berarti banyak kepura-puraan yang ditampilkan dalam hubungan Anda.
Yg terpenting adalah NIAT BAIK DIANTARA PASANGAN, sehingga dengan KOMITMEN & CINTA, SEGALA SESUATU SELALU ADA JALAN KELUARNYA. Meskipun dalam tahap ini Anda masih punya waktu setengah hari lagi untuk memutuskan, artinya Anda masih dapat berganti pilihan, akan tetapi PERTIMBANGKAN DENGAN BAIK hal ini.
BAGI YANG TELAH MENIKAH
(setengah hari untuk memutuskan)
Dalam tahap ini, siapa pun dia berarti Anda telah mengambil keputusan untuk memilihnya. Jangan berpikir untuk mengambil keuntungan dari pasangan Anda. Jika ini terjadi berarti Anda EGOIS, sama halnya dengan orang kaya di atas.
Dan dengan demikian Anda TIDAK PERNAH PUAS DENGAN DIRI PASANGAN ANDA, maka tidak heran banyak terjadi perselingkuhan. Anda tidak boleh merasa menyesal dengan pilihan Anda sendiri. Jangan kuatir raja selalu memperhatikan rakyatnya dan menambah kadar karat pada emasnya. Jadi percayalah kalau Tuhan pasti akan memperhatikan Anda dan DIA YANG PALING BERKUASA MENGUBAH SETIAP ORANG. Perceraian bukanlah solusi, sampai kapan kita harus menikah lalu bercerai, menikah lagi & bercerai lagi??
Ingatlah si dia adalah HADIAH, siapa pun dia terimalah dia karena sekali lagi itulah pilihan Anda.
Ingat ini adalah setengah hari terakhir yaitu waktu untuk memutuskan, setelah itu Anda tidak boleh menukar atau menyia-nyiakan emas Anda. Jadi peliharalah pasangan Anda sebagaimana HADIAH TERINDAH YANG TELAH TUHAN BERIKAN. Dan apa pun yang terjadi dengan pasangan Anda komunikasikanlah dengan Tuhan, KARENA DIA YANG MEMILIKI HATI SETIAP MANUSIA...
Have a Good day !
Assalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Mengejar kekhusyuan dalam shalat adalah perbuatan yang sangat mulia. Tentunya shalat yang lebih utama adalah shalat yang khusyu’. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran, bahwa ciri orang yang beriman adalah yang khusyu’ ketika shalat.
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya (QS. Al-Mukminun: 1-2)
Sayangnya, tidak pernah ada standar dari shalat khusyu’ dari sisi ilmu fiqih dan hukum. Karena pada hakikatnya khusyu’ itu sendiri adalah sebuah sikap hati, bukan sikap fisik atau ucapan. Sehingga apa yang terasa di dalam hati memang tidak ada ukurannya.
Namun yang kita sepakati adalah bahwa orang yang paling khusyu’ shalatnya adalah Rasulullah SAW. Tidak ada seorang pun yang kekhusyuan shalatnya melebihi kekhusyuan beliau.
Dan kalau melihat tata cara shalat Rasulullah SAW, nampaknya kekhusyuan shalat beliau tidak seperti yang seringkali kita bayangkan. Kita sering membayangkan bahwa orang shalat yang khusyu’ itu tidak mengingat apa-apa, terlepas dari dunia luar, keluar dari alam kesadaran, lupa segala-galanya, karena sibuk asyik masyuk berkhalwat dengan Allah SWT.
Namun ternyata gambaran yang kita terima dari shalat Rasulullah SAW tidak demikian. Kalau jadi imam dan mendengar ada bayi menangis pada shaf di belakangnya, beliau malah mempercepat shalatnya.
Kalau dibilang shalat khusyu’ itu tidak ingat apa-apa dan terlepas dari dunia luar, apakah berarti shalat beliau tidak khusyu’?
Bahkan beliau memerintahkan kita yang sedang untuk mencegah bila ada orang lain mau lewat di depan kita. Kalau khusyu’ adalah hanya mengingat Allah dan tidak tahu situasi di lapangan, maka apakah beliau tidak khusyu’ dalam shalatnya?
Bahkan beliau SAW memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular atau kalajengking. Bayangkan, shalat sambil membunuh ular, apakah berarti beliau mengajarkan shalat yang tidak khusyu’.
Kalau nabi Muhammad SAW melakukan itu semua di dalam shalat, lalu kita katakan bahwa perbuatan itu menunjukkan ketidak-khusyuan, siapa lagi yang kita jadikan panutan dalam shalat?
Bukankah Rasulullah SAW adalah satu-satunya sumber petunjuk kita dalam melakukan beragam ibadah ritual, termasuk juga shalat?
Kesimpulan Para Ulama tentang Khusyu’
Para ulama ahli fiqh dalam semua kitab mereka telah mengklasifikasi tiap gerakan dan bacaan shalat. Ada yang merupakan rukun, ada yang merupakan wajib, sunnah dan lainnya.
Ternyata kalau kita perhatikan, meski tetap menjadi kesempurnaan shalat, nakum kekhusyuan tidak pernah menjadi rukun shalat, bahkan tidak juga menjadi kewajiban.
Yang menjadi rukun malah thuma’ninah, yaitu tenang. Dan tentu saja thuma’ninah bukan khusyu’. Lain thuma’ninah dan lain lagi khusyu’.
Maka seorang yang kebetulan ketika shalat tidak mengalami ciri khusyu’, tapi memenuhi semua rukun dan wajib shalat, shalatnya tetap sah. Dan kalau sudah sah, tentu sudah gugur kewajiban untuk melakukan shalat.
Intinya kami ingin mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk mengulang shalat itu.
Walau pun juga perlu diketahui bahwa mengulang shalat wajib memang ada dalil yang membolehkannya. Namun penyebabnya bukan semata-mata karena keyakinan bahwa shalat yang pertama itu tidak syah.
Mengulangi shalat boleh dilakukan karena memang ada riwayat yang menyebtkan hal itu. Salah satu penyebabnya karena memang ingin mendapatkan pahala berjamaah.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Senin, 14 April 2008
Namun tentunya anda tidak memfokuskan mata dan pikiran anda pada tujuan tersebut seratus persen, anda hanya membayangkan sekali - kali, dan tetap memfokuskan diri pada apa yang ada di depan mobil anda, memperhatikan rambu - rambu, mengendalikan stir, membelokkan mobil ke kanan atau ke kiri , mengerem dan kadang - kadang melihat kaca spion di atas kepala anda, dan tentunya memperhatikan apakah jalan yang anda lewati sudah benar atau salah arah, pokoknya anda harus konsentrasi penuh pada jalan yang sedang anda lewati dan mengerjakan apa yang dapat anda kerjakan saat itu, karena ini jauh lebih penting, kalau tidak tujuan itu tidak akan sampai, mungkin anda kesasar ke tempat lain. Iya.. ndak ?
Bila anda lebih banyak memfokuskan diri pada masa lampau atau masa depan, anda akan mengalami kecemasan. Dengan memikirkan masa lampau, anda akan terbelenggu dalam kepedihan, masa lampau biarlah berlalu dan lupakan saja. Sedangkan bila anda memfokuskan diri pada masa depan, anda juga akan merasa cemas, masa depan tidak dapat anda lihat dengan jelas apa yang akan terjadi nantinya. Anda tidak bisa meramalkan masa depan.
Satu-satunya cara meramalkan masa depan adalah dengan menciptakan masa depan itu sendiri, demikian di katakan oleh Stephen R Covey. Gunakan kekuatan pikiran anda untuk menciptakan kehidupan yang anda inginkan. Pikirkan dan bayangkan apa yang menjadi tujuan anda. Semakin sering anda membayangkan tujuan-tujuan anda, anda akan semakin bergairah dan berenergi dan suatu saat anda akan berani untuk melakukan sesuatu untuk merealisasikan tujuan-tujuan anda.Namun apa yang telah anda ciptakan bagi masa depan anda, tidak akan datang dengan sendirinya tanpa tindakan yang anda lakukan. Anda harus melakukan tindakan yang selaras dengan tujuan anda. "
Saat ini " adalah saat yang tepat bagi anda untuk bertindak. Fokuskan diri anda pada keadaan " saat ini ". Anda perlu melakukan hal-hal yang benar dan hebat dengan cara - cara yang hebat saat ini juga, lakukan apa saja yang bisa anda lakukan saat ini. dan lakukan evaluasi apakah tindakan anda sudah searah dengan tujuan atau menyimpang ke tempat lain. Lakukan pekerjaan anda saat ini dengan baik dan se sukses mungkin, karena semua ini merupakan kekuatan. Tindakan anda setiap hari yang sukses, akan membawa anda pada kesuksesan yang lebih besar di masa yang akan datang. Janganlah anda hidup dalam ilusi masa lampau ataupun masa depan dengan hanya bermimpi, realisasikan mimpi anda lewat tindakan anda saat ini. Fokuskan pikiran dan tindakan anda pada " saat ini ", dan sekali-kali ingatlah tujuan anda. Inilah The Power of " NOW ".
Oleh : Soegianto Hartono
Jumat, 28 Maret 2008
Saat anda membaca kata “kuburan” apa yang muncul dalam pikiran anda? Apakah anda akan langsung teringat orang-orang yang anda kasihi yang telah lebih dulu meninggalkan dunia ini? Atau anda teringat film tentang Drakula, Vampire, Kuntilanak, Forever Night, Simanis Jembatan Ancol, Pemburu Hantu, Dunia Lain, Suara Kubur, atau gambaran lain yang lebih menyeramkan? Atau mungkin yang muncul dalam pikiran anda adalah gundukan tanah dengan batu nisan di ujungnya?
Bila saya mendengar kata kuburan maka yang muncul dalam pikiran saya adalah suatu tempat yang paling kaya di dunia ini. Lho, kok bisa begitu? Benar, saya melihat gundukan tanah dan batu nisan yang bertuliskan nama, tanggal lahir – tanggal meninggal. Namun yang lebih saya perhatikan adalah garis kecil yang memisahkan tanggal lahir dan tanggal meninggal. Mengapa? Karena garis kecil inilah yang sebenarnya jauh lebih penting dari pada tanggal lahir atau tanggal meninggal seseorang. Garis kecil ini menggambarkan kehidupan yang telah dilalui seorang manusia, apa yang telah ia lakukan dalam hidupnya, apa yang ia lakukan dengan hidupnya, prestasi apa saja yang telah ia capai baik untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, untuk masyarakat, dan untuk umat manusia.
Garis kecil ini merupakan jawaban dari suatu pepatah bijak yang saya dengar bertahun-tahun lalu, yang masih sangat kuat mengiang di hati saya hingga saat ini, ”God’s gift to you is your life. What you do with your life is your gift back to God”.
Mengapa saya mengatakan bahwa kuburan adalah tempat terkaya di dunia? Karena ada begitu banyak orang yang sebenarnya tidak hidup selama mereka hidup, hanya sekedar ”ada” atau ”exist”, hingga mereka meninggal.
Lha, kalau mereka tidak hidup lalu apakah mereka telah meninggal? Bukan. Kebanyakan orang hanya sekedar “hidup – hidupan”. Mengutip yang dikatakan Benjamin Franklin, “Most men die from the neck up at age 25 because they stop dreaming”.
Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Benjamin Franklin. Dan saya ingin menambahkannya menjadi, “Most men die from the neck up at age 25 not because they stop dreaming but because they don’t have the courage, passion ,commitment, and burning desire to pursue their worthwhile dreams while they are awake and alive”.
Seorang guru spiritual pernah berkata, “Dalam hidup ada kehidupan. Kita harus menghidupkan kehidupan ini agar kita benar-benar hidup di dalam hidup kita, tidak sekedar hidup-hidupan. Setelah kita benar-benar hidup, mengerti hidup, mengapa kita hidup, dan untuk apa kita hidup, baru kita dapat membantu orang lain untuk menghidupkan kehidupan mereka sehingga mereka benar-benar hidup di dalam kehidupan mereka”.
Kuburan adalah tempat terkaya di dunia karena ada begitu banyak orang yang meninggal dengan membawa impian-impian besar mereka yang belum terwujud, ke dalam kubur. Mereka menyimpan semua harapan dan impian mereka tanpa mampu, sempat, atau berani mewujudkan impian mereka. Ada banyak faktor yang menyebabkan orang tidak hidup sesuai dengan potensi mereka. Ada banyak pencuri impian yang berkeliaran di sekitar kita, yang senantiasa siap mencuri impian-impian kita.
Dalam berbagai kesempatan saya berinteraksi dengan orang, saya selalu melakukan survei kecil-kecilan. Apa yang saya tanyakan? Saya berusaha mencari tahu benang merah antara bidang pekerjaan atau karir yang mereka kerjakan sekarang dengan latar belakang pendidikan formal atau bidang keunggulan mereka. Hasilnya? Selalu membuat hati saya sedih.
Hampir semua, saya ulangi hampir semua, orang yang saya temui ternyata melakukan pekerjaan yang berbeda atau tidak sejalan dengan disiplin ilmu yang mereka pelajari saat masih kuliah. Ada sarjana arsitek atau teknik sipil yang jadi debt collector. Ada lulusan luar negeri yang buka depot atau catering. Ada sarjana teknik kimia yang jadi guru Play Group/TK. Ada sarjana teknik mesin yang jadi sales mobil atau agen asuransi dan masih banyak contoh lain.
Saya sering menjumpai orangtua dan orang tua yang berkata, ”Coba dulu saya melakukan... pasti keadaan hidup saya berbeda”, ”Saya menyesal setelah kini sadar ternyata impian saya yang sesungguhnya adalah...” Apakah anda pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini?
Saya juga sering bertemu dengan orang yang dulunya begitu bersemangat mengenai masa depan mereka, impian-impian mereka, dan hidup mereka, ternyata setelah sekian tahun kemudian, saya tidak lagi melihat passion atau gairah hidup yang dulu pernah ada di dalam diri mereka. Saat saya bertanya mengenai hal ini jawaban mereka biasanya, ”Yah... kita harus realistis. Ekonomi sekarang lagi sulit. Dapat kerja atau bisa cari makan saja sudah syukur. Nggak usah macam-macam lah.”
Setelah membaca cerita saya sejauh ini mungkin anda akan bertanya, ”Kalau begitu Pak Adi pasti tidak termasuk orang-orang yang diceritakan di atas?” Anda salah. Saya juga termasuk orang yang pernah salah jurusan. Impian-impian saya sempat hampir padam. Namun saya bersyukur karena saya dapat segera sadar dan segera menyusun ulang program hidup saya. Saya juga pernah tersesat. Besar harapan saya, setelah anda membaca cerita saya, anda bisa saya sesatkan kembali ke jalan yang benar.
Lalu bagaimana caranya untuk bisa mengetahui impian kita yang sesungguhnya? Butuh waktu untuk melakukan perenungan mendalam. Impian hidup hanya bisa ditemukan melalui serangkaian proses perjalanan pencarian ke dalam diri (inner journey). Impian ini hanya bisa didapatkan bila kita sungguh-sungguh bangun, sadar, dan mencarinya secara sadar. Impian setiap orang berbeda. Namun bila impian itu berasal dari lubuk hati terdalam, maka esensi setiap impian hidup pasti akan sama dan sangat mulia. Karena impian bersifat sangat pribadi maka saya tidak akan membahasnya dalam artikel ini. Yang akan saya bahas adalah potensi diri atau bidang keunggulan kita.
Setelah menemukan impian hidup barulah kita menentukan strategi untuk mencapainya. Untuk itu, kita perlu mengenal potensi diri. Yang saya maksudkan dengan potensi diri adalah kekuatan atau bidang keunggulan kita. Untuk menemukan bidang keunggulan atau potensi diri yang sesungguhnya maka kita perlu, untuk sementara waktu, melupakan semua pendidikan formal yang pernah kita jalani. Lakukan analisa diri dengan cermat dan jujur.
Bidang pekerjaan yang kita lakukan saat ini belum tentu sejalan dengan potensi diri yang menjadi keunggulan kita. Lalu bagaimana caranya untuk mengetahui bidang keunggulan kita? Bapak Paulus Winarto, memberikan resepnya dengan sangat gamblang, seperti yang saya kutip di bawah ini:
Kita menyukai pekerjaan/aktivitas tersebut
Kita mau melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut meski tidak dibayar
Kita merasakan mudah melakukannya sedangkan orang lain merasa sulit
Semakin sering kita melakukannya maka semakin baik kita dalam bidang ini
Kita sering dipuji orang karena melakukannya (pekerjaan ini mampu kita lakukan dengan baik)
Kita selalu bersemangat saat membicarakan pekerjaan/aktivitas tersebut
Kita selalu bersemangat dan memiliki energi yang besar saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
Kita sering lupa waktu saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
Kita merasa puas ketika melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
Kita merasa bangga saat melakukan pekerjaan/aktivitas tersebut
Kita mudah mempengaruhi orang dalam bidang pekerjaan/aktivitas tersebut
Ada seorang kawan saya yang memiliki latar belakang pendidikan akuntansi namun bekerja di bagian purcashing/pembelian. Saat ditanya apa pelajaran favoritnya saat di SMA ia menjawab, ”Saya sangat suka bahasa Inggris. Saya selalu mendapat nilai sangat tinggi dalam bidang studi ini.” Saat ditanya mengapa ia memilih jurusan akuntansi, ia menjawab, ”Saya ambil jurusan akuntansi karena dulu saya pikir jurusan ini menjanjikan masa depan yang baik. Hasil tes minat dan bakat saya sebenarnya lebih condong ke aspek bahasa.”
Kisah lainnya adalah tentang kawan saya, Lina. Kawan saya ini telah menggeluti dunia desain pakaian selama lebih dari 15 tahun. Ia selalu berkata bahwa passion-nya adalah di dunia mode. Benarkah demikian? Ternyata kalau saya cek dengan 11 kriteria di atas maka dunia mode bukanlah bidang keunggulannya. Mengapa? Karena selama lebih dari 15 tahun dia tidak berkembang. Semakin banyak job yang ia dapatkan maka semakin stres dirinya. Bahkan sampai jatuh sakit.
Saya menyarankan ia untuk beralih profesi dengan mengembangkan diri sejalan dengan bidang keunggulannya. Kembali Lina beralasan bahwa dunia mode adalah dunianya. Di samping itu semua kawannya sudah mengenal dirinya sebagai desainer pakaian. Sayang kalau harus meninggalkan dunia ini karena sudah digeluti lebih dari 15 tahun.
Lalu, siapakah orang yang ”menyesatkan” kita sehingga kita melakukan pekerjaan yang bukan bidang keunggulan kita? Bisa lingkungan, bisa orangtua, bisa pihak sekolah, bisa siapa saja. Mereka adalah orang yang sebenarnya bertujuan baik namun masih menggunakan paradigma lama. Hal ini akan membuat seorang anak tumbuh dewasa tanpa mampu atau sempat mengembangkan potensi mereka yang sesungguhnya.
Sering kali bidang keunggulan seseorang ”dibelokkan” oleh orangtua, teman, guru, atau orang yang dipandang mempunyai otoritas sehingga seorang anak, yang nantinya akan menjadi pribadi dewasa, akhirnya yakin dan mengembangkan diri tidak sejalan dengan potensinya yang sesungguhnya.
Kawan saya, Ariesandi Setyono, lima tahun lalu, pernah membantu seorang anak SMU, sebut saja Agus, untuk menemukan bidang keunggulannya. Agus berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya terkena stroke dan ibunya kerja serabutan untuk menghidupi keluarganya. Agus adalah anak laki paling besar yang diharapkan menjadi tulang punggung keluarganya.
Saat Aries bertanya, ”Apa hobi atau kegiatan yang sangat suka kamu lakukan?” ”Saya sangat suka merangkai bunga,” jawab Agus cepat. ”Ok, kalau begitu, karena orangtuamu tidak akan mampu membiayai kamu kuliah, maka sebaiknya kamu belajar di Florist dan mendalami hobimu untuk dijadikan sumber uang,” jelas Aries.
Agus benar-benar menjalankan apa yang Aries sarankan. Agus tidak kuliah dan begitu tamat SMU, dengan meminjam uang dari ibunya, langsung belajar merangkai bunga di sebuah Florist terkenal di Surabaya. Hasilnya? Tahun lalu, saat Agus masih berusia 23 tahun, ia telah berhasil membeli satu unit ruko di lokasi yang strategis seharga Rp650 juta tunai. Ia juga mampu membeli mobil baru, seharga lebih dari Rp100 juta, secara tunai. Yang paling penting adalah ia mampu menjadi tulang punggung keluarganya dalam hal finansial.
Anda pasti bertanya bagaimana si Agus ini kok bisa begitu berhasil? Ternyata dari hobinya merangkai bunga Agus kemudian “melarikan” kecakapannya ini ke bidang wedding decoration. Hebatnya lagi Agus membidik segmen pasar kelas atas yaitu hanya menerima dekor pengantin di hotel bintang lima. Apa yang Agus lakukan pasti akan sangat maksimal karena usahanya dilakukan sejalan dengan bidang keunggulannya. Kabar terakhir yang kami dengar tentang Agus yaitu jadwalnya untuk setahun sudah penuh. Ck..ck...ck... luar biasa anak muda ini.
Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah mengembangkan potensi anda yang sesungguhnya? Apakah anda selama ini hanya menjalani rutinitas pekerjaan yang bukan di bidang keunggulan anda?
Senin, 10 Maret 2008
Kali ini saya sekadar ingin berbagi cerita mengenai keterkejutan saya soal bagaimana seorang tukang ojek melakukan rekayasa keuangan (financial engineering). Sebagai catatan awal, saya tidak ingin memberikan penilaian (judgment) moral apa pun atas orang yang saya ceritakan berikut ini. Cerita ini saya sodorkan sekadar untuk berbagi bahwa mereka yang secara umum dipandang dengan sebelah mata sekalipun ternyata memiliki kecerdasan keuangan sekelas dengan mereka yang namanya menghiasi halaman-halaman koran ekonomi.
Sekitar November tahun silam saya memesan tukang ojek langganan, Pak Nikmat namanya, via telepon. Saya harus berangkat ke studio kerja (yang masih berada di kompleks yang sama dengan tempat tinggal saya) dengan ojek, tidak dengan sepeda seperti biasanya, karena harus membawa buku dalam jumlah yang cukup banyak.
Kurang dari lima menit setelah ditelepon Pak Nikmat datang, kali ini dengan sepeda motor baru merek Jepang buatan dalam negeri. “Wah, baru nih Pak, motornya…,” saya membuka pembicaraan.
“Ah, cuma barang gadean, Pak…,” dia menjawab dengan mimik biasanya, malu-malu.
“Lho, barang baru ada yang gadein?” saya sampaikan rasa penasaran saya.
“Orangnya memang seneng begitu, Pak.”
“Maksudnya?”
“Kredit motor, terus digadein…”
Saya penasaran. Jadi setelah nangkring di sadel bagian belakang motornya saya terus mencoba mengorek apa yang dimaksud dengan “orangnya senang begitu… kredit motor terus digadein”.
Dalam perjalanan ojek yang tidak terlalu lama itu saya berhasil mengorek sejumlah informasi dari Pak Nikmat, informasi yang membuat saya geleng kepala, mengagumi cara kerja orang yang disebutnya sebagai temannya itu.
“Orangnya nembak dua tingkat Pak…,” katanya memulai cerita. Menurut dia, teman itu, sebut saja Udin Peang, mengambil kredit sepeda motor dengan “modal” uang muka Rp500.000. Setelah motor didapat, dia tidak langsung menggunakan motor itu, tetapi menggadaikannya pada Pak Nikmat seharga tiga juta rupiah. Uniknya, uang gadai ini nilainya tetap, tapi periodenya fleksibel. Sang empunya motor boleh mengambil motornya kapan saja dengan uang tiga juta rupiah. Loh, kok tanpa bunga? “Kan saya sudah pakai motor ini. Kalau dianggurin memang rugi, tapi kalau buat ngojek ya enggak, Pak…”
Itu tembakan tingkat satu.
Tembakan tingkat duanya adalah, dari uang gadai tiga juta itu dia mengambil yang satu juta rupiah untuk membeli dua sepeda motor lainnya. Anda tahu apa yang dilakukannya kemudian? Dua sepeda motor baru itu “dikaryakan” pada adik dan sepupunya dengan setoran harian. Menurut perhitungan Pak Nikmat, setoran dari dua sepeda motor ini cukup untuk membayar cicilan tiga sepeda motor sekaligus setiap bulan.
“Dia sendiri ngapain sekarang?”
“Dia nggak ngojek lagi, Pak… Katanya sih mau jualan bakso. Bakso sama bumbu jadi dia ambil dari Cileduk pakai modal yang dua juta itu…”
Saya tidak bisa bertanya lebih lanjut karena saya sudah sampai ke tempat kerja saya. Tetapi saya dibuat termangu-mangu untuk waktu yang lama. Bahkan seringkali, terutama ketika menulis artikel keuangan, saya selalu teringat pada cerita Pak Nikmat. Ada rasa penasaran ingin berkenalan dengan sang financial-engineer tersebut. Tetapi, saya menunda keinginan itu karena pelajarannya sudah bisa dirumuskan:
1. Ternyata modal kecil bukan masalah,
2. Jangan sepelekan kecerdasan finansial “orang kecil”,
3. Kecerdasan finansial hanya akan efektif kalau disertai dengan keberanian dan aksi.
Bayangkan, dengan modal lima ratus ribu rupiah ada tiga sepeda motor yang produktif, ada tiga pengojek mendapat kesempatan kerja, dan ada satu warung bakso (entah berapa pun skalanya) dengan minimal satu tenaga kerja. Ck…ck…ck…[her]
Oleh : Her Suharyanto
Selasa, 04 Maret 2008
Untuk menjadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang.
Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja, ungkap Purdi E. Chandra, Direktur Utama Yayasan Primagama. Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses. ―Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha, tambah konglomerat bimbingan tes‘ ini.
Purdi memang jadi model wirausahawan jalanan‘ plus modal nekad. Ia tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama pada 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. Ia sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 167 cabang di lebih dari 106 kota. Ia dirikan IMKI, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta. Grup Primagama pun merambah bidang radio, penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semuanya diawalkan dari keberanian mengambil risiko.
Kini Purdi lebih banyak lagi berdakwah‘ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. ―Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,
ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang. Wawancara berikut ini pernah dimuat di majalah Berwirausaha (II/8 Mei/02) dan merupakan bagian dari buku laris manis berjudul Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah!. Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor Primagama di Jakarta:
Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?
Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.
Apakah pendidikan kita sangat bermasalah
Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart. Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.
Apa itu?
Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan…ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%. Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya. Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:red), malah ndak ada hasilnya… walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu!
Apa artinya street smart?
Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; ―Ibu pergi ke pasar membeli sayur.‖ Kok tidak yang menjual sayur saja? Kok, kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.
Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?
Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.
Setuju dengan pemikiran Kiyosaki ―If you want to be rich and happy, don‘t go to school?
Kalau saya if you want to be rich and happy, ya.... kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari menterinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha. Penelitian di Harvard begitu.
Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan. Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar. Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.
Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?
Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem
tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan. Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadinya.
Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?
Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang. Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?
Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?
Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.
Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‗Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!‘. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel. Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual beli handphone. Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ndak mungkin, kan? Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.
Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?
Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi.
Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya. Misal dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah…ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi,
itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp100 milyar, kan? Rasionalnya di mana?
Tadi ada seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, ―jangan dihitung terus!‖ Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.
Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…
Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.
Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?
EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombok pun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.
Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?
Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise.
Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?
Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.
Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?
Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang ―di atas‖. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa….Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi. Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif.*
Purdi E. Chandra
Jumat, 01 Februari 2008
Menurut pakar manajemen, Dr. Roy Sembel, kekuatan manusia terletak pada tiga hal: bakat, pengetahuan dan ketrampilan. Bakat adalah pola pikir, perasaan atau perilaku alami yang kita miliki. Pengetahuan adalah fakta-fakta dan pelajaran yang kita pelajari dalam hidup ini. Sedangkan ketrampilan adalah hal-hal atau langkah-langkah yang kita kuasai karena kita melatih atau melakukannya secara terus menerus.
Misalnya seseorang memiliki bakat atau talenta di bidang musik. Jika dia terus belajar (misalnya menulis, membaca not balok atau belajar cara komposisi), berlatih secara konsisten minimal 6 jam sehari, selama lebih dari sepuluh tahun, dan senantiasa fokus, maka dapat dipastikan dia akan menjadi musisi terkenal.
Bertolak dari hal di atas maka secara jelas kita dapat melihat bahwa bakat hanya salah satu dari 3 aspek kekuatan manusia. Bakat adalah sesuatu yang sudah kita bawa sejak lahir dan merupakan anugerah Tuhan yang harus kita syukuri. Jangan pernah menyesali bakat yang telah diberikan-Nya. Jika merasa bakat kurang maka kembangkanlah 2 aspek lainnya: pengetahuan dan ketrampilan.
Entrepreneur seperti Ir. Hariono, pemilik Panti Pijat Bersih Sehat di Jakarta (yang ini sungguhan pijat untuk kesehatan bukan tempat transaksi seks) malah berani mengatakan kalau sukses seseorang hanya 15% yang ditentukan oleh bakat, keturunan, pendidikan formal (gelar sarjana) dan modal uang. Sisanya sebesar 85% ditentukan oleh yang namanya sikap mental positif yaitu kreativitas. Jadi, bakat bukanlah segalanya. Tanpa didukung kreativitas, bakat tak akan berarti. Sebaliknya, jika bakat yang kita miliki sangat sedikit, jadilah manusia yang kreatif. Caranya dengan tekun belajar dan memiliki pikiran yang senantiasa terbuka. Umumnya dengan semakin bertambahnya pengetahuan orang cenderung makin kreatif.
Ada sebuah kisah menarik untuk menjelaskan hal di atas yaitu tentang burung rajawali yang dibesarkan bersama ayam. Ijinkanlah saya menceritakan kembali cerita milik Anthony de Mello, seorang rohaniwan asal India itu.
Seorang pengembara menemukan sebutir telur rajawali di tengah hutan dan membawanya pulang lalu ditempatkan bersama telur–telur ayam yang sedang dierami induk ayam. Beberapa waktu kemudian, telur–telur tersebut menetas. Rajawali tumbuh bersama ayam dan berperilaku seperti ayam.
Suatu hari, ia melihat seekor burung dengan gagahnya terbang di udara. Ia kemudian bertanya kepada ibunya yang tentu seekor ayam, “Ibu, apa itu?” Ibunya melihat ke atas. “Oh itu… Itu raja segala burung di udara. Namanya rajawali. Kalau kita ini hanya burung–burung tanah yang berkotek, mengais tanah dan makan cacing. Jadi jangan pernah bermimpi menjadi seperti dia, nak,” kata ibu yang penuh kasih sayang itu.
Saudaranya yang tentu seekor ayam kemudian mengambil–alih pembicaraan. “Ah, tapi kamu mirip dia. Sekarang coba kamu terbang,” tutur saudaranya. “Ah, masa iya?” kata sang rajawali yang belum menyadarinya itu. “Mari kita pergi ke sungai dan melihat bayangan dirimu,” ajak saudaranya.
Ketika melihat bayangan dirinya di sungai, ia pun mulai percaya kalau ia adalah rajawali. Tapi karena dibesarkan bersama ayam dan telah menikmati kehidupan seperti ayam, ia mulai pesimis bisa terbang bebas bak rajawali. Saudara–saudara dan ibunya kemudian menaikkan dia ke atas batu dan menyuruhnya terbang. Seperti sudah diduga, mula – mula ia jatuh beberapa kali. Namun setelah mencoba dengan tekun ia mulai bisa terbang.
Angin yang berhembus kencang secara tiba–tiba itu membuat ia terbang makin tinggi. Dari 10 meter, 100 meter, 1.000 meter dan kemudian menghilang di balik megahnya awan. Dari atas sana ia memandang ke bawah. Sambil melihat keluarga tercinta, ia pun berseru, “Engkau yang melihat aku. Engkau yang menyadarkan aku. Engkau yang menciptakan aku menjadi rajawali. Terima kasih…”
Apa hikmah yang bisa kita peroleh dari cerita di atas? Untuk menjadi entrepreneur unggulan, jangan pernah lelah untuk terus mengembangkan kekuatan kita. Terus berusaha dan tekunlah. Jangan pernah menyerah (never give up). Ada baiknya juga, saya paparkan ungkapan bijak milik Presiden Calvin Coolidge yang sering sekali dipakai orang dalam berbagai pelatihan motivasi diri.
Nothing in the world can take the place of persistence. Talent will not; nothing is more common than unsucessful men with talent. Education will not; the world is full of educated derelicts. Persistence and determination alone are omnipotent! (Di dunia ini tak ada yang bisa mengalahkan ketekunan. Bakat pun tidak; sebab ada sekian banyak orang yang gagal meskipun mereka berbakat. Pendidikan juga tak mampu menggantikannya; dunia ini penuh dengan orang berpendidikan yang gagal. Hanya ketekunan dan kebulatan tekadlah yang tak terkalahkan!).
Untuk itu, mari kita kembangkan bakat, pengetahuan dan ketrampilan kita agar dapat menjadi entrepreneur unggulan!
Kamis, 31 Januari 2008
Sahabat, Dalam perjalanan hidup anda sekarang ini, adalah perjalanan sebuah misi. Misi kehidupan yang hanya sekali saja akan anda jalankan. One way Ticket!
Kehidupan tak akan pernah bisa anda putar ulang. Tidak ada kesempatan kedua, dan anda harus berhasil. Anda harus sukses. Bila anda sukses maka anda menang, bila tidak maka anda akan kalah dan anda hanya akan menjadi beban kehidupan, beban keluarga, beban orang lain, beban masyarakat, beban negara dan bahkan beban dunia. Kehadiran anda hanya akan menjadi masalah dan masalah.
Sahabat, apakah anda akan relakan kehidupan anda yang hanya sekali ini, sebagai orang yang kalah?
Sahabat, apakah anda akan relakan kesempatan yang tersisa untuk menyerah?
Hidup anda adalah sebuah misi. Misi ini menjadi bisa sangat berat namun bisa menjadi sangat ringan dan menyenangkan. Misi kehidupan anda haruslah SUKSES!
Anda tidak akan memiliki pilihan lain kecuali anda harus sukses!
Anda terlahir sebagai pemenang..
Anda telah mengalahkan 250 juta sel sperma atau calon manusia. Andalah pemenangnya.
Saat anda masih bayi anda belajar berdiri. Anda terjatuh dan anda bangkit kembali. Saat anda semakin besar anda belajar berjalan dan terjatuh. Namun anda bangkit lagi. Saat anda beranjak lebih besar anda belajar berlari dan terjatuh, anda bangkit kembali. Kini anda bisa berjalan, berlari dan memiliki banyak pengetahuan dan keahlian. Akankah anda menyerah? Atau anda akan tetap bangkit dan bangkit kembali?
Kehidupan begitu indah….
Begitu banyak makanan lezat yang bisa kita nikmati, begitu banyak minuman segar yang bisa kita rasakan. Pemandangan pemandangan yang indah, ada pantai lengkap dengan deburan ombak, ada gunung lengkap dengan udara sejuk yang nyaman. Ada sungai berliku dan bunyi gemericik yang menenangkan jiwa.
Kehidupan begitu indah. Ada saudara yang selalu setia menjadi teman kita, ada keluarga yang selalu menemani dan mendukung kita, ada istri, suami anak yang selalu menggembirakan kita.. Lihat senyuman mereka, dengar tawa candanya… Dunia begitu indah dan nyaman untuk ditempati, dinikmati dan dijadikan tempat untuk bercengkrama.
Kehidupan begitu meriah, ada Mall mall lengkap dengan barang bagus dan indah, Ada panggung hiburan, ada gemerlap lampu, ada suara suara riuh yang menggairahkan, Ada Surau, Masjid, dan gereja, tempat kita menenangkan jiwa dan mengadu pada yang Kuasa. Ada bukit lembah dan pegunungan yang sejuk dan bersih, ada gairah ombak lautan yang setia.....
Apa yang akan kita capai dalam kehidupan ini?
Sebelum Terlambat
Kehidupan adalah sesuatu yang bisa kita jalani dengan suka cita dan cinta. Ingat kembali perasaan cinta itu. Bayangkan anda dengan perasaan jatuh cinta yang luar biasa. Merindu, kangen, ingin bertemu dan memeluk dengan segenap perasaan. Namun anda terganggu oleh keterpurukan dan ketidak berdayaan. Orang yang anda cintai menjauh dan menjauh, karena anda tidak menampakan sinar “kejayaan”, Wajah anda dipenuhi dengan keluhan-keluhan dan suara-suara pesimis.
Sebelum terlambat, segera berbalik arah. Bersemangatlah agar wajah anda lebih cerah dan indah.
Sebelum terlambat, dan orang yang anda cintai menjauh, berprestasilah!
Sebelum terlambat mereka meninggalkan anda. Berbuatlah sesuatu!
Kita BUKAN orang yang bodoh?
Begitu banyak kenikmatan dan keindahan yang bisa dinikmati oleh orang yang pandai. Begitu banyak perasaan dan sensasi yang bisa dicapai oleh orang pandai. Kekayaan, penghargaan, harga diri, status, uang, harta, keluarga yang tercukupi. Bahkan ibadah-ibadah yang hanya bisa oleh mereka yang mampu.
Akankah anda berhenti belajar?
Apakah anda orang yang malas?
Mereka yang sukses adalah mereka yang rajin dan pantang menyerah. Mereka yang selalu berusaha, mereka yang selalu berjuang, mereka yang selalu memperbaiki diri. Sedang orang yang malas akan terlindas, tertinggal, terpuruk, dan menjadi cemoohan.
Lihat dan ingat kembali wajah keluarga anda!
Lihat dan ingat kembali tempat tinggal anda!
Lihat dan telusuri kembali wajah ibunda!
Lihat dan telusuri kembali wajah istri atau suami anda.
Wajah anak anda……
Mereka menunggu kesuksesan anda.
Jangan biarkan kesabaranya tak tertahan…
Bergegaslah untuk menuju kesuksesan yang luar biasa…..
Kini anda sedang dalam sebuah misi, dimana anda tidak boleh gagal!
Ini adalah sebuah kesempatan yang baik bagi anda.
Anda bisa menjadi apa saja yang anda inginkan.
Anda memiliki segala sesuatu untuk memujudkan impian anda.
Ubahlah pikiran sempit dan keyakinan rendah anda.
Besarkan! Besarkan! Besarkan terus!
Lihat nyala api semangat yang berkobar dalam dada anda!
Semakin besar….semakin besar!
Sekarang saatnya anda memulai CITA-CITA besar itu
Tuliskan!
Tuliskan dengan HURUF BESAR! di hati anda yang paling dalam.......
Selamat berjuang, tahun ini akan menjadi tahun kejayaan anda. Doa saya menyertai sahabat semua!
Salam perubahan!
From: BISNIS PARTNER